Tausiyah yang diberikan KH. Imam Zarkasyi dihadapan kelas VI PMDG thn 1983, beliau memaparkan tentang pengalamannya :
"Sesudah
khatam Alquran saya membaca kitab Arab ; itupun langsung memakai kitab
arab, padahal saya belum tahu bahasa Arab. Guru menyuruh santri
membuka buku, lalu membaca : "Qoola As-Syaikhu", lalu mengartikan :
"wus ngendiko, sopo kyai syaikh?"(telah berkata, siapa kyai syaikh ?).
Kemudian ia menyuruh menirukan : Tirukan ..! Ketika itu saya sudah
tamat santri, saya merasa otak saya tidak bergerak. Saya bertanya-tanya
dalam hati, kaya As-Syaikhunya ada disitu, tapi kata wus-nya mana?
ngendiko-nya mana? soponya mana? Ketika saya memberanikan diri bertanya,
saya dibentak, "Hus, jangan tanya dulu, ikuti saja!". Lalu saya ikut
saja apa kata guru, sampai akhirnya saya baca kitab fathul Qarib dan
fathul Mu'in. Namun sejauh itu saya belum tahu bahasa Arab, karena
setiap akan bertanya tidak boleh, sebab itu dianggap su'ul adab (tidak
sopan). Meskipun saya bisa membaca seperti orang-orang itu, namun tetap
saja, saya tidak mengerti. Akhirnya pikir punya pikir kalau saya
mengerti bahasa arab tentu akan lebih mudah. Kalau begitu mengapa tidak
belajar bahasa Arab terlebih dahulu ..?"
Semboyan beliau :
"al-kalimah wahidah fii alfi jumlatin khairun min alfi kalimah fii
jumlatin wahidah (kemampuan menggunakan satu kalimat dalam seribu
susunan kalimat lebih baik daripada penguasaan seribu kata secara
hafalan dalam satu kalimat saja)."








0 komentar:
Posting Komentar